“Endi bayarku, Mas?”

IMG_20130923_184141
Dan sontak mak gerrrr…
Penggalan kejadian ketika saya dan teman-teman saya, yang sa males sebut satu-satu namanya, sepedaan beberapa waktu lalu. Kata diatas diucapkan seorang anak kecil yang saya gak tau namanya, pada seorang teman, sebut saja namanya Andri.
Anak itu minta bayaran setelah dorong sepeda temen saya sampe ke starting point. Maksudnya titik dimana kita mau start sepedaan. Letaknya di atas bukit, tenggara puncak gunung Merapi. Setau saya nama daerah itu Klangon. Kalo ga salah di atasnya Srunen, tempat Mbah Marijan dimakamkan.
Anak-anak di daerah ini memang sudah terbiasa menjual jasa dorong sepeda. Bekennya mereka di sebut sebagai porter sepeda. Secara umur mereka masih bisa dibilang anak-anak. Yah, antara 10 sampai lima belas tahunan. Rata-rata masih SD dan SMP. Beberapa saja orang dewasa yg ikut porter.
Ada puluhan anak yang biasanya standby di lapangan parkir. Lapangan parkir ini jadi batas trakhir angkutan para goweser atau bahasa kerennya loading. Karena jalan yang mungkin ditempuh memang cuma sampai di situ. Dan untuk sampai ke starting point tadi harus menyusuri jalan setapak yang juga menanjak. Jaraknya sekitar limaratusan meter, bisa kurang dikit.
Sebelum goweser turun dari mobil atau angkutan yang lain, anak-anak porter ini sudah berkerumun sibuk nawarin jasanya. Dan ketika sepeda sudah diturunin, mereka berebut ngecim sepeda para goweser. Ada yang nungguin di sebelah sepeda sambil dipegangin, ada yang malah main-main sepedanya. Padahal ga semua goweser bermaksud menggunakan jasa mereka, termasuk saya. Kadang ada satu-dua yang ga dapat order porter. Ini yang kadang bikin agak gimana gitu sama mereka.
Tapi kadang seneng juga liat mereka ini. Polah dan omongannya sok ngguyokke. Yang sebenernya bikin sa agak iri, mereka malah bebas main pake sepeda-sepeda mahal milik goweser yang aku sendiri malah blum pernah. Ada yang dipakai jumping-jumping, ngepot-ngepot, atau sekedar dibanding-bandingin satu sama yang lain. Mereka tampak gembira. Setidaknya mereka bisa merasakan sepeda andalan tanpa harus beli.
Sebenarnya kasihan juga sama anak-anak porter ini. Tak jarang mereka sampai kelelahan dengan kringat sampai kerewe-rewe. Bagaimana enggak, beberapa dari mereka terkesan lebih kecil dari sepeda yang mereka dorong. Apalagi jenis sepeda fullsus yang berat dan ukurannya lebih gede. Tak jarang mereka harus berhenti beberapa kali untuk istirahat.
Macem-macem pula ekspresi wajah mereka sesampainya di atas bukit. Ada yang langsung tiduran kleleran di rumput, ada yang duduk sambil ngos-ngosan. Tak jarang pula ada yang misuh-misuh karena sepedanya berat.
Itulah sekelumit potret porter sepeda Klangon yang mereka bisa dapat uang bukan karena mereka butuh. Tapi karena ada kesempatan.

24 Juli 1981, Meninggalnya Buya Hamka

Image

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) ulama besar dan sastrawan yang terbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 17 Juli 1981, meninggal dunia pada pukul 10.41 WIB karena penyakit jantung, diabetes dan radang pru-paru. Jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir Kebayoran lama jakarta pada petang harinya. Pemakaman tersebut dilepas ribuan umat yang secara spontan datang berbondong-bondong. Sebelumnya, pada 18 Mei 1981, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan Hamka, mengundurkan diri sebagai Ketua MUI. Pengunduran diri hamka sebagai ketua MUI ini terkait dengan dikeluarkannya fatwa MUI mengenai diharamkannya orang-orang Islam di Indonesia untuk menghadiri upacara resmi perayaan Natal umat Kristiani yang telah mengundang pro-kontra dikalangan masyarakat dan pemerintahan. Khususnya tanggapan dari Menteri Agama Alamsjah. Fatwa teresebut dikeluarkan pada tangggal 7 Maret 1981 dengan dalih untuk melindungi umat muslim dari pengaruh umat Nasrani. Namun demikian, dalam surat pernyataan penguduran dirinya, Hamka mengatakan bahwa fatwa MUI tersebut tetap sah. Pengunduran diri Hamka ini mendapat sambutan gembira dari kalangan muslim, walaupun pada waktu ia terpilih sebagai ketua MUI, tak banyak yang memberinya ucapan selamat. Atas fatwa yang dikeluarkan oleh MUI ini, menteri Agama waktu itu, Alamsjah, marah dan mengecam dikeluarkannya fatwa tersebut serta mengundurkan diri karena merasa tidak mampu mengampu amanat berbagai penganut agama di Indonesia saat mengadakan pertemuan dengan MUI tanggal 23 April 1981. Hamka memlilih mundur pada 18 Mei 1981 karena menganggap dirinya lah yang bertanggung jawab atas mundurnya menteri agama Alamsjah.
Hamka meninggal hanya beberapa bulan setelah ia meletakkan jabatannya sebagai ketua MUI. Sebuah teladan yang mestinya di renungi oleh para pejabat saat ini. Seorang pemimpin yang besar hati dan siap bertaruh untuk mebela umat.

Dari berbagai sumber

Syi’ir Tanpo Waton Bukan Karya Gus Dur?

Akeh kang apal Qur’an Haditse,

Seneng ngafirke marang liyane,

Kafire dewe dak digatekne,

yen isih kotor ati akale..

 

Penggalan syi’ir diatas tak asing lagi dikalangan pecinta sholawat di Indonesia, bahkan di luar negeri. Syi’ir ini dipopulerkan oleh almaghfurlah Gus Dur. Lantas orang mengidentikkan syiir ini dengan Gus Dur, dan berkesimpulan bahwa syiir tanpo waton adalah karya beliau. Termasuk saya sendiri tentunya.
Syiir ini memang dahsyat, dengan kedalaman makna yang luar biasa. Ringan tapi menusuk. Bisa dibilang MENOHOK. Namun tak dinyana, siapa sangka, ternyata syiir ini bukan karya Gus Dur, melainkan karya salah seorang Kyai dari Kriyan, Mojokerto. Siapakah beliau? Yups, beliau adalah KH. Nizam As Shofa.
KH. Nizam As Shofa sendiri merupakan salah satu pengasuh Pondok Pesantren Darul Shofa Wal Wafa yang berada di Tanggul, Wonoayu, Krian, Mojokerto. Beliau termasuk pengikut thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah. Syiir tanpo waton yang beliau ciptakan selalu dilantunkan dalam majelis-majelis mujahadah dan thoriqohnya. Hingga akhirnya Syiir ini dikenal oleh banyak jamaah dan lantas sering pula dilantunkan oleh Gus Dur dalam berbagai majelis.
Lebih banyak informasi tentang syiir Tanpo waton dan KH. Nizam As Shofa bisa anda baca di majalah TEBUIRENG edisi Januari 2012. Salah satu pesan KH Nizam : “Monggo melahirkan jiwa Muhammad dan mewujudkan “pakartining Gusti”. Jiwa Muhammad suka hal2 positif.

Sumber: Kultwit Gus Sholah @gus_Sholah

Sekelumit Hamengku Buwono IX


Dalam catatan sejarah Republik ini, nama Sri Sultan HB IX mungkin masih kalah tenar sama Bung Karno, Bung Hatta, atau bung-bung yang lain. HB IX sendiri, kalau kita mau meruntut catatan sejarah, adalah penjamin masih berdirinya republik ini. Bukan saya membela lho, tapi itu faktanya. Kalo Bung Karno (awas! bukan Bung Karni), masih hidup, saya yakin dia akan setuju dengan pendapat saya itu. Banyak fakta-fakta soal republik terkait HB IX yang belum diungkap. Atau mungkin memang tidak akan pernah diungkap. Salah satunya soal serangan umum 1 Maret.
Tidak diungkapnya beberapa fakta dari sejarah republik yang berkaitan dengan diri HB IX sendiri bukan karena alasan politis atau apa. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah RUUK yang masih ngambang sampai kini. Hanya satu tujuannya, yaitu untuk tetap menjaga kesatuan NKRI. HB IX tidak menginginkan apa yang telah dilakukannya untuk republik ini menjadi hal yang diperhitungkan atau bahkan diperdebatkan. Istilah jawanya “sing uwis yo uwis”.
Sultan HB IX menurut saya adalah sosok yang luar biasa. Tidak ada sosok pemimpin republik ini yang bisa seperti beliau, bahkan hingga sekarang. Memiliki wibawa, berkharisma, intelek, dan yang penting adalah agamis. Beliau pernah mengajak rakyat Yogyakarta untuk berpuasa ketika pusat kota Yogyakarta menghadapi kepungan tentara Belanda. Alhasil, Nagari Ngayogjokarto Hadiningrat masih berdiri kokoh hingga kini. Sifat agamis beliau tak perlu diragukan, karena secara hisrtoris Kraton Ngayogjokarto Hadiningrat berperan besar dalam perkembangan agama Islam di Jawa khususnya Jawa Tengah.
Ada satu judul “kekudangan” (lagu ketika menimang bayi) yang seakan memproyeksikan masa depan HB IX. Lagu ini dicipta oleh HB VIII untuk “mengudang” Raden Dorojatun. Berikut liriknya:

Eii, ya Sayidi
Risang noto
Kaping sanga katon
Ngadeg noto
Cara kuna
Panjang yuswo
Dadi tumbaling nagoro

kurang lebihnya jika dialih bahasakan ke bahasa Indonesia:

sang pemimpin
ke sembilan
memerintah
dengan cara kuno
panjang umur
jadi tumbalnya negara

Dari lagu kekudangan ini seakan Raden Dorojatun sudah diproyeksikan oleh sang ayah menjadi pemimpin besar yang siap berkorban apa pun demi negara. Baik Ngayogjokarto Hadiningrat maupun NKRI.

Sumber lagu : http://makhabatullah.blogspot.com/2012/03/sholawat-jawa-for-ngayogyakarta-serambi.html

Lampor, Perjalanan Gaib Sang Nyai

Dari beberapa sumber yang saya baca, kata “lampor” diartikan sebagai suara kegaduhan. Ada pula yang mengartikan sebagai pasukan Nyi Roro Kidul. Ada juga yang hanya menyimpulkan lampor sebagai salah satu jenis lelmbut atau memedi.
Perihal lampor ini, Hersri Setiawan, salah seorang sastrawan/budayawan pernah menulisnya dalam novelnya yang bersampul Aku Eks Tapol. Dia menulis beberapa paragraf soal lampor, dimasukkan dalam salah satu bab yang memaparkan mitos Nyai Lara Kidul di kota Brosot. Kota yang pernah ditinggalinya. Tulisan ini pula yang sebenarnya menginspirasi saya untuk bercerita soal “lampor” sesuai dengan apa yang saya dengar dan ketahui. Sedikit saya akan menulis apa yang pernah ditulis Hersri.
Baca lebih lanjut

Adikarto, Kabupaten Kecil Pinggir Pantai Selatan


Adikarto, nama wilayah yang kini langka disebut. Merupakan bagian dari wilayah Kadipaten Pakualaman Yogyakarta. Wilayah Adikarto terletak bagian selatan yang kini merupakan wilayah kabupaten Kulon Progo. Berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatan, Sungai Progo di sebelah timur, Kali Bogowonto di sebelah barat, dan Kabupaten Kulon Progo di sebelah utara.
Bagi kelangsungan Kadipaten Pakualaman, Adikarto memiliki peran penting. Wilayah ini menjadi wilayah terluas dari keseluruhan Kadipaten Pakualaman. Sedang wilayah di pusat Kadipaten Pakulaman (sekeliling kadipaten) hanya kecil saja. Mungkin masih lebih kecil dari wilayah dalam beteng Kraton Yogyakarta. Ini menjadi unik, karena antara pusat pemerintahan (Kadipaten Pakualaman/kota) dan Adikarto yang menjadi satu-satunya wilayah kekuasaan terpisah jauh. Jumlah penduduk pun jauh lebih banyak di Adikarto dari pada wilayah kota. Antara Adikarto dan Kadipaten Pakualaman dipisahkan oleh wilayah kekuasaan Kraton Yogyakarta dan berjarak lebih dari 20 Km.
Baca lebih lanjut