MENGAPA KARTINI???

Antara Kartini dan Dewi Sartika

Kartini muda

Mengapa Kartini??

Kalimat itulah yang pernah saya lontarkan kepada seorang kawan. Terlalu bodoh memang pertanyaan itu. Semuanya hanya mengalir. Berawal dari peringatan Hari Kartini setahun lalu. Banyak orang mengagung-agungkan nama Kartini melalui berbagai media sosial jejaring. Sedangkan masih banyak wanita lain yang besar dan cukup berpegaruh di negeri ini. Namun seolah hanya nama Kartini yang pantas diagungkan. Taruhlah sebagai contoh Dewi Sartika. Kedua wanita ini sama-sama berperan dalam pengembangan pendidikan perempuan bumiputera. Sama-sama juga mempunyai darah kebangsawanan(trah bupati).

Dewi Sartika merintis pendidikan perempuan bumiputera dengan mendirikan Sekolah  Istri. Sekolah yang dirintisnya di sebuah ruangan kecil di belakang rumah yang disinggahi bersama ibunya sejak 1902. Tentunya dia takut jika kegiatan melanggar adat yang dilakukannya itu diketahui oleh Pemerintah Hindia-Belanda. Kegiatan belajar itu lantas diketahui oleh Inspektur Pengajaran Hindia Belanda di Bandung, C. Den Hammer. Pada awalnya inspektur ini menyatakan kegiatan yang dilakukan Dewi Sartika adalah kegiatan terlarang dan membahayakan. Namun selanjutnya Inspektur Inspektur C. Den Hammer malah mendukungnya. Dia menyarankan agar Dewi Sartika menghadap Bupati Martanegara (yang konon mempunyai riwayat buruk dengan keluarga Dewi Sartika) untuk membicarakan pendirian sekolah wanita bumiputera.

Usul “Uwi” diterima oleh Bupati Martanegara. Dia bahkan memberikan tempat melangsungkan kegiatannya di pendopo kabupaten untuk mengantisipasi terjadinya penentangan dari masyarakat khususnya kalangan priyayi. Tanggal 16 Januari 1904 menjadi tonggak didirikannya “Sekolah Istri” (Sekolah Gadis) oleh “Juragan Dewi” dan menjadi sekolah khusus perempuan pertama di Hindia Belanda. Sekolah itu menampung 20 murid dengan Dewi Sartika sebagai salah satu gurunya dibantu Ibu Poerma dan Ibu Oewit yang merupakan saudara misan Uwi. Sekolah ini berkembang hingga akhirnya dipindah ke Jalan Ciguriang, Kebun Cau atas dana pribadi Uwi dan Bupati Bandung. Yah, walaupun kalangan priyayi umumnya masih menanggapi dingin keberadaan Sekolah Istri.

Baik Uwi maupun Kartini mempunyai latar berlakang yang sama dalam usahanya untuk memajukan pendidikan kaum perempuan bumiputera. Yaitu untuk membekali mereka agar hidupnya kelak menjadi lebih baik dan mengentaskannya dari pemahaman sempit kehidupan rumah tangga yang seakan menempatkan kaum pria selalu berkedudukan lebih.

Perjuangan kartini untuk bisa memberikan pendidikan bagi perempuan bumiputera amat panjang. Sejak dia mulai berkorespondensi dengan beberapa sahabatnya, Kartini sudah mengutarakan berbagai kegelisahannya terhadap nasib perempuan bumiputera. Untuk itu dia berharap dapat bersekolah di sekolah guru agar dapat mengajar. Naiatnya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik sahabat (kebanyakan anak pejabat Hindia) dan bahkan dari beberapa pejabat Hindia. Namun disisi lain, tentangan datang dari Ayahnya yang begitu dihormati dan tak mau anaknya menjadi sumber konflik di kalangan priyayi.

Pasang surut semangat terjadi dalam diri Kartini. Pernah dia hampir pergi ke Belanda untuk belajar. Impiannya pun membumbung tinggi, namun lantas lenyap. Atas anjuran sang ayah, Kartini meneruskan pendidikannya gurunya di Betawi. Kartini pun sepaham dengan pemikiran ayahnya itu, dengan harapan agar kelak ketika mereka membuka sekolah, masyarakat tidak hilang kepercayaan.

Kartini baru dapat mewujudkan cita-citanya untuk memberikan pendidikan perempuan bumiputera pada pertengahan 1903. Murid-muridnya merupakan anak-anak dari kalangan pegawai. Dalam salah satu suratnya untuk Ny. Abendanon-Mandri tertanggal 4 Juli 1903, calon murid yang pertama kali ingin dididik Kartini yaitu seorang anak pegawai bumiputera. Lantas menyusul anak-anak perempuan kolektur dan disusul seorang anak perempuan asisten kolektur. Anak perempuan jaksa Karimun Jawa juga mempercayakan pendidikannya kepada Kartini.

Ada hal yang membedakan antara perjuangan Uwi dengan Kartini. Dalam memulai proses pembelajaran Dewi Sartika bisa dikatakan memulainya dari bawah tanah. Dia memulai dengan proses yang sangat sederhana, memberikan ketrampilan yang pernah didapat kepada saudara dan siapa saja yang ada dirumahnya. (pada mulanya dia mengajari keterampilan kepada anak pedmbantunya yang tidak sekolah). Lantas dia mendirikan sekolah non formal di salah satu ruangan rumahnya.

Sedangkan pada Kartini, dia ingin langsung mendirikan sekolah formal bagi perempuan bumiputera. Dengan keterbatasannya, ia terlebih dahulu ingin menuntut pendidikan keguruan lantas baru mendirikan sekolah.

Yang menjadi nilai lebih dari seorang Kartini yaitu karena dia seorang yang rajin menulis. Kartini dikenal sebagai seorang perempuan kritis terhadap masalah perempuan bumiputera. Perhatiannya terhadap masalah perempuan tidak hanya dituliskan dalam surat-surat pribadi untuk para sahabatnya, namun juga termuat dalam berbagai media. Tulisannya mendapat banyak tanggapan positif dari perempuan Eropa dan Belanda. Mereka menaruh simpati terhadap nasib perempuan Hindia. Pandangan sinis justru datang dari kalangan priyayi pribumi.

Surat-surat Kartini menjadi rekam jejak perjuangannya dalam memperoleh dukungan dan empati terhadap nasib perempuan bumiputera.

Kartini pernah menulis gagasannya pada berbagai media seperti majalah wanita De Hollandse Lelie, Koran Locomotief, Echo, dan Majalah untuk anak negeri De Nederlandse Taal. Bahkan majalah de Echo memberikan kolom khusus baginya. Dalam tulisannya, Kartini tidak menggunakan nama aslinya, tapi menggunakan beberapa nama samaran seperti “Tiga Soedara” di de Echo.

Sedangkan dalam berkorespondensi, berikut adalah beberapa orang yang menjadi rekannya.
1. Tuan dan Nyonya Abendanon. Direktur Kementrian Pengajaran dan Kerajinan Hindia yang memperhatikan kemajuan pendidikan bumiputra.
2. Ir.H.H. van Kol dan Istrinya. Seorang politisi Belanda yang menentang penjajahan. Istrinya adalah salah satu penulis dalam De Hollandse Lelie. Kartini berkenalan melalui majalah itu.
3. Stella Zeehandelaar. Pegawai pos yang juga penulis. Mereka berkenalan dari majalah De Hollandse Lelie.
4. Nyonya Ovink. Istri  seorang asisten residen yang pernah berkunjung ke Jepara.
5. Dr. N. Adriani. Seorang ahli bahasa dan juga penulis.
6. Hilda Gerarda de Booy. Anak perempuan Charles Boissevain, satrawan dan pimred Algemeen Handelsblad. Berkenalan ketika Kartini berkunjung ke Bogor.

Mengapa Kartini???
Karena dia MENULIS..jawab kawanku.

[dari berbagai sumber]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s