Lampor, Perjalanan Gaib Sang Nyai

Dari beberapa sumber yang saya baca, kata “lampor” diartikan sebagai suara kegaduhan. Ada pula yang mengartikan sebagai pasukan Nyi Roro Kidul. Ada juga yang hanya menyimpulkan lampor sebagai salah satu jenis lelmbut atau memedi.
Perihal lampor ini, Hersri Setiawan, salah seorang sastrawan/budayawan pernah menulisnya dalam novelnya yang bersampul Aku Eks Tapol. Dia menulis beberapa paragraf soal lampor, dimasukkan dalam salah satu bab yang memaparkan mitos Nyai Lara Kidul di kota Brosot. Kota yang pernah ditinggalinya. Tulisan ini pula yang sebenarnya menginspirasi saya untuk bercerita soal “lampor” sesuai dengan apa yang saya dengar dan ketahui. Sedikit saya akan menulis apa yang pernah ditulis Hersri.
Dalam novelnya, Hersri menuliskan arti “lampor” secara harfiah yang berarti kegaduhan. Kegaduhan itu timbul karena bunyi kentongan yang saut-menyaut. Berpangkal dari rumah penduduk di tepian Kali Progo merambat ke tengah desa dan berlanjut ke desa lain setelahnya.
Cerita yang pernah saya dengar perihal lampor kurang lebihnya sama dengan yang sudah dipaparkan oleh Hersri Setiawan. Konon, lampor adalah suara gemuruh yang berasal dari suara kereta dan iring-iringan pasukan pengantar Nyai Lara Kidul (Nyi Roro Kidul). Iring-iringan itu hendak menuju suatu tempat di Gunung Merapi, atau mau berkunjung ke kraton Yogyakarta. Tentunya apa yang dijabarkan sebagai kereta dan iring-iringan pasukan ini adalah sesuatu yang  tak kasat mata. Hal ini menjadi sebuah fenomena, antara benar dan tidaknya.
Diyakini, ada orang yang bisa melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Dalam cerita yang beredar di masyarakat, lampor terjadi pada waktu sore menjelang malam hingga pagi hari. Jadi tidak hanya terjadi saat petang hari saja. Bisa pada tengah malam, atau pagi hari(subuh). Maka dari itu, dulu jarang orang yang berani beraktifitas/berada di Kali Progo waktu malam hari. Begitu tanda magrib  datang, orang-orang yang beraktifitas di kali langsung bergegas pulang. Tak sedikit orang yang mendapat gangguan gaib ketika waktu magrib masih beraktifitas di kali.
Perlu dijelaskan pula bahwa kali Progo menjadi salah satu pusat aktifitas sehari-hari masyarakat desa sekitar kali. Mereka umumnya bercocok tanam pada lahan pasir atau lahan endapan (lumpur/linet) yang dulu disebut masyarakat sebagai “Pulo”. Mungkin karena bentuknya yang menyerupai pulau di tengah kali. Kini lahan itu lebih sering disebut sebagai “wedi kengser”. Lahan yang pembagiannya menurut klaim dan turun-temurun.
Di wilayah tempat tinggal saya ada seorang yang dituakan dalam hal per-kalian. Dia bernama Mbah Wir. Orang ini dianggap danyangnya kali Progo oleh orang sekitar. Karena orang ini satu-satunya yang berani berada di tengah kali hingga malam tiba. Dan itu sudah biasa bagi dia. Beliau pula orang yang sering melihat kejadian gaib di Kali Progo termasuk lampor.
Penjulukan warga sebagai “danyang kali Progo” nampaknya diamini oleh sang penguasa. Suatu hari beliau hilang di Kali Progo dan kembali pulang beberapa hari kemudian. Katanya dia sempat bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Dia hilang lagi pada akhir dekade 90-an. Beberapa orang melihat kalo Mbah Wir terseret arus. Namun hingga kini jasadnya tidak ditemukan. Menurut orang pintar, dia telah diangkat sebagai abdi di kerajaan Nyi Roro Kidul. Huwallahua’lam…
Kembali ke lampor.
Dipercaya atau tidak, antara mitos atau kebenaran, diciptakannya jin oleh Tuhan harus kita pertimbangkan. Karena dalam realitanya, kadang “pulo” yang berada di tengah kali Progo nampak kacau. Seperti ada bekas jejak-jejak kaki manusia yang tidak sedikit telah lewat di atasnya. Sesuatu yang janggal menurut saya dilakukan oleh masyarakat sekitar. Langka orang beraktifitas di tengah “pulo” pada malam hari dan meninggalkan jejak yang begitu banyak.
Mitos lampor sebenarnya mulai pudar sejak kedatangan bangsa Jepang. Masa itu, tidak lagi ada kentongan dari pinggir kali yang gaduh. Orang yang membuat gaduh akan dicap sebagai antek Amerika dan Inggris. Dan brarti juga, dia harus siap dibayonet tentara/polisi Jepang.
Terlepas dari itu, realitanya mitos lampor masih kuat di daerah saya (Poncosari), setidaknya hingga akhir 1990an, sebelum makin maraknya penambangan pasir yang menggila (sejak awal 2000an). Dan kini tak ada lagi cerita lampor untuk anak-anak. Atau Nyi Roro Kidul sudah memilih jalur lain??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s